Pages

Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts

20.9.13

fiksi seratus kata #3

“Lihat! Sudah hampir terbenam sempurna!”

“Iya... aku lihat. Bagus, ya?”

“Taruh dulu kameramu. Lihatlah langsung, bukan dari balik lensa.”

“Sama saja. Begini bisa sekalian dipotret.”

“Tidak sama. Kamu melewatkan momennya.”

“Aku merekam momennya!”

“Kamu merekam gambar. Bukan saat ini.”

“Saat ini?”

“Sunset, kamu, aku.”

“Aku bisa memotretmu. Memotret kita berdua. Dengan latar belakang sunset.”

“Duduklah bersamaku. Pejamkan matamu. Dengarkan ombak. Rasakan angin. Hirup laut itu kedalam tubuhmu. Lihatlah dengan rasa. Rekam dalam ingatanmu.”

“Tapi aku bisa lupa rasanya. Foto-foto ini membantuku mengingat.”

“Sibuk dengan kameramu, hanya membuatmu tidak tahu rasanya. Kemarilah... Kalau nanti kamu lupa, kita buat ingatan yang baru.“

22.3.13

fiksi seratus kata #2

Pelayan menyodorkan secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya:

kangen ngobrol...

Seketika ingatan lama menyeruak. Tentang obrolan telepon hingga larut. Obrolan tidak penting yang saat itu terasa sangat penting. Yang memendekkan jarak menjadi hanya sejauh jantung dan gagang telepon dalam genggaman.

Puteri mendapati sosok penulisnya. Tersenyum ke arahnya dengan tatapan meminta jawaban.

Cukup satu anggukan dan mereka bisa meninggalkan restoran ini, menuju masa lalu. Mereka bisa mengobrol lagi. Mungkin tentang mengapa baru sekarang dia menemukannya. Padahal dulu, Puteri tak pernah hilang dari hidupnya.

Puteri menggeleng pelan. Di kejauhan, senyum itu memudar diikuti anggukan lemah.

Puteri yakin, dia pasti mengerti.

30.10.12

fiksi seratus kata



“Ini yang dulu kupanjat?”, Javas kagum pohon itu masih ada.
“Ya.”, Puteri  menjawab adik asuhnya.
“Semua masih sama.”
“Tidak juga. Kamu berubah.”
“Mbak tidak. Masih tetap pendek. Hehehe.. Dan masih seperti dulu, Mbak seperti kakak kandung bagiku.”

Puteri meredam degup jantungnya. Ada perih menelusup.

“Pendek, katamu?! Siapa yang menggendongmu waktu jatuh dari pohon ini?”
“Itu dulu... Sekarang aku yang lebih kuat. Sini kubayar, biar impas.”
Seketika lengan Javas mengangkat Puteri lalu memanggulnya.
“Lepaskan! Hahahaha.... Turunkan aku!”

Puteri limbung. Bukan tubuh, tapi jiwanya.
Dulu Javas berumur sepuluh. Lima belas tahun berlalu, dia bukan lagi adik kecilnya. Sejak kapan hatinya berganti arah?



[sudah lama saya menulis ini, tapi tak pernah punya keberanian untuk membawa nya ke halaman ini..
makasih ya vah.. you're the reason i post this story.. ]